Katarsis (2013)

Ini pegang. Mamaku bilang, kalau lagi sakit, kita harus pegang koin biar sakitnya berkurang.

(Katarsis, 2013; p. 55)

Katarsis CoverMencatut dari Wikipedia, Katarsis atau Chatarsis yg berasal dari bahasa Yunani, berarti upaya sebuah “pembersihan” atau “penyucian” diri, pembaruan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. Disini gue gak berbicara sebagai pengamat psikologi atau ahli teologis untuk menceritakan sisi dari Katarsis ini. Tapi gue yakin, ada cerita yang berbeda dari buku ini

Diawali dengan kasus pembunuhan sebuah keluarga Johandi di rumah mereka yang besar di Bandung. Dari keseluruhan keluarga yang mati tragis, hanya seorang keponakan dari keluarga Johandi yang berhasil selamat, Tara. Tara diketemukan di dalam sebuah kotak perkakas yang sempit dalam keadaan syok berat. Dalam keadaannya yang mengkhawatirkan, Tara kemudian dirawat oleh seorang psikolog yaitu Dr. Alfons.

Dr. Alfons bukanlah dokter baru bagi Tara, dimana Tara sendiri sudah menemui Dr. Alfons sebelum kejadian mengerikan itu sebagai seorang pasien. Paman dan bibi Tara sempat membawa Tara menemui Dr. Alfons untuk mengikuti sesi terapi karena Tara tidak memiliki reaksi yang sewajarnya dengan lingkungan sekitar. Tara tidak menangis ketika mengetahui ayah kandungnya tidak lagi akan mengakuinya sebagai anak. Tara membenci ketika orang memanggil namanya “Tara”. Tara juga memiliki obsesi untuk memegang koin perak 5 rupiah yang selalu digenggam di tangannya.

Kemudian akan muncul Ello, sahabat kecil Tara yang kemudian kembali lagi setelah pembunuhan sadis itu terjadi. Satu per satu, kejadian-kejadian yang berkaitan dengan pembunuhan keluarga pamannya itu mulai terkuak. Bau mint, kotak perkakas, dan koin perak itu akan terus mencekik kehidupan Tara dan menjadi tiga barang yang akan terus menerus menghantuinya.

Dari upaya penulis menyajikan Katarsis ini untuk membangun para pembaca mengikuti labirin-labirin fiksi yang telah dia persiapkan. Kita akan merasakan teror ketika Tara mencoba untuk melepaskan bayang masa lalunya di dalam sebuah kotak perkakas sempit tersebut.

Mudah bagimu berkata bahwa monster itu tidak ada.Bahwa makhluk mengerikan yang kulihat selalu bertengger di sudut kamarku adalah bohong. Bahwa kotak perkakas yang disembunyikannya di di kolong tempat tidur hanya bayanganku. Dan bahwa rasa terancam yang menghantuiku akan hilang dengan sendirinya. (Katarsis, 2013; p. 119)

Pembaca juga akan ditarik dalam alur maju dan mundur cerita dari Tara maupun Ello yang nantinya akan bertemu pada satu titik yang sama. Bahwa pertemuan mereka yang singkat ketika mereka masih kecil dulu akan membuat jalan hidup mereka benar-benar menjadi berbeda.

Rasa sakit itu ada untuk melindungi dan mengajarimu banyak hal. (Katarsis, 2013; p.182)

Submitted to “Membaca Sastra Indonesia 2013”, hosted by mademelani.

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s