Sketsa – Sketsa Umar Kayam : Mangan Ora Mangan Kumpul (1995)

 Mangan ora Mangan Kumpul (Umar Kayam)

Mangan ora Mangan Kumpul (Umar Kayam)

Jauh sebelum saya mengetahui kumpulan kisah banyolan ala Pak Umar Hayam ini, saya hanya mengetahui beliau dari kumpulan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Buku itu pun saya dapatkan sebagai hadiah dari acara Pak Putu Wijaya di kampung halaman saya dulu. Dan ternyata, saya lebih menyukai kisah banyolan Pak Umar ketimbang cerpen singkatnya di Manhattan itu.

Mangan Ora Mangan Kumpul (1995) ini seperti refleksi dari kehidupan Umar Kayam sendiri. Tokoh-tokoh utama yang bermain dalam kumpulan cerpen ini, dirasakan amat sangat dekat dengan kehidupan. Seperti pemeran Pak Ageng sebagai main actor, merupakan gambaran dari Umar Kayam seutuhnya. Kemudian Mr. Rigen yang sebenarnya abdi dari Pak Ageng (namanya kece, seperti nama mantan presiden AS Ronald Reagen), Mrs atau Ms. Nansiyem (penggunan Mrs. atau Ms. tergantung situasi), anak mereka Beni Prakosa (yang lahir pada hari ABRI dan diharapkan menjadi seorang ABRI ketimbang kenek kereta karena sering meneriakkan Solo – Plambanan) dan penjual ayam penggeng Mas Joyoboyo.

Kehidupan yang simpel itu, diceritakan secara lebih kompleks dengan mengibaratkan rumah Pak Ageng sebagai sebuah negara. Mr. Rigen sebagai ketua dari kitchen cabinet, sementara Mrs. Rigen bertindak sebagai menteri ekonominya. Lalu kemudian akan muncul tokoh-tokoh pendukung lainnya yang semarak silih berganti mengambil cerita dalam penggalan cerpen-cerpennya.

Jadi, adalah kisah Never On Sunday dimana Pak Ageng tidak bisa berpuasa karena sakit. Mas Joyoboyo si penjual ayam penggeng juga menjajakan dada dan paha yang empuk di depan Pak Ageng. Malu karena tidak puasa, tetapi juga sudah ketauan oleh Mas Joyoboyo ini. Ini potongan omongan Mas Joyoboyo yang mak jleb tapi kocak.

“Saya juga tidak pasa kok, Den. Wong saya mesti menjaja ngalor-ngidul, ngetan bali ngulon, cari makan buat anak ini. Mosok Gusi Allah tidak paring ampun, nggih, Den?”

Saya cuma bisa manggut-manggut tanpa teges, mulutku masih belepotan selei stoberi.

“Apalagi menurut Den Bei Curiga Naraka, sing penting itu batine kalau pasa, Den. Kalau batine resik dan kuat, lha… mbok minum es kopyor ditambah bistik komplit dikunyah nyas-nyis-nyus waktu pasa siang bolong begini ya tidak apa-apa, Den. Mak legenderr… masuk mulut tapi tidak terasa makan. Itu, Den, menurut Den Bei Curiga Naraka pasa kelas paling tinggi.”

Well, I bet you understand this joke. Sindiran halus buat yang berpuasa tapi… atau yang tidak berpuasa tapi…

Lalu, ada lagi kisah mengenai Oleh-oleh yang disinggung sebagai asal muasal korupsi di negeri ini.

Seorang pengamat ekonomi, yang saya lupa namanya, melihat hubungan yang jelas antara budaya oleh-oleh dengan korupsi di negeri kita. Katanya korupsi di negeri kita baru akan berhenti betul, tuntas sampai ke akarnya, bila budaya oleh-oleh sudah lenyap dari muka bumi negeri kita ini. …

Pengamat tersebut sudah tidak lagi melihat batasan antara oleh-oleh dan upeti. Meskipun harus diakui juga bahwa semua yang datang membawa barang bawaannya itu sebagai oleh-oleh . Itu berarti istilah oleh-oleh dianggap sebagai istilah yang netral dan tidak mengundang tusukan perasaan. Upeti jelas membawa pesan : untuk sesuatu ada sesuatu. Sang Bupati taklukan membawa upeti kepada sang raja agar tidak diserang wilayahnya. Sang Bupati sekarang membawa oleh-oleh buat bapak Gubernur? Ya, supaya lancar pembangunan wilayahnya …

Jadi pada intinya, hanya perbedaan di istilahnya saja. Yang satu sebagai upeti, sementara lainnya adalah oleh-oleh. Bermain di denotasi dan konotasi maknanya saja, tho.

Sebagai orang keturunan Jawa, saya tidak terlalu fasih dalam berbahasa. Namun kata-kata pada buku ini meskipun bercampur dengan boso jowo, tapi tidak mengurangi pemahaman saya mengenai maknanya. Ada istilah jawa yang dicerpenkan dalam buku ini yaitu Mikul Dhuwur Mendhem Jero yang artinya memikul tinggi-tinggi, menanam dalam-dalam.

Kisah “Kami Bangsa Tempe” juga unik, menceritakan mengenai rencana Pak Ageng untuk mengencangkan ikat pinggang akibat mengeringnya anggaran rumah tangga pasca bulan Syawal. Disini Umar Kayam mencampurkan istilah-istilah perekonomian dalam bahasa sehari hari.

Bulan Syawal yang panjang belum habis dan Mr. Rigen & staf dengan patuh dan penuh profesionalisme melaksanakan garis kebijaksanaan ekonomi-finansial-budgetair yang telah saya gariskan. Karena keringnya dana tentulah deregulasi juga saya terapkan. Artinya, saya tidak terlalu menuntut yang macam-macam. Namun demikian, justru karena anggaran kering itulah, saya telah menuntut kitchen cabinet saya untuk bisa lebih kreatif lagi. Ekspor non migas juga saya galakkan dan saya tuntut pula kreatifitas mereka. Koran-koran lama. Majalah dan beberapa brosur diekspor Rigen ke tukang loak untuk merentang panjang anggaran.

Di akhir cerita mengenai pengetatan anggaran makan di rumah Pak Ageng, Pak Ageng terkesima dengan kekuatan dari para anggota kitchen cabinetnya yang makan seadanya. Karena dirinya saja makan tempe, bagaimana para abdinya?

Oh, kitchen cabinet-ku yang kompak. Aku tahu sekarang mengapa para ahli ekonomi kita begitu pasti dan gagah mengatakan bahwa “daya tahan ekonomi rakyat desa masih kuat”.

Submitted to “Membaca Sastra Indonesia 2013”, hosted by mademelani.

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s