Harimau! Harimau! (1992)

Bunuhlah dulu harimau dalam dirimu …

Harimau! Harimau! by Mochtar Lubis

Harimau! Harimau! by Mochtar Lubis

Pernahkah kita berpikir bahwa mungkin sewaktu-waktu kita harus mengungkapkan semua dosa kita dihadapan manusia lain untuk menyelamatkan diri sendiri? Pernahkah kita terfikir untuk mengakui semua kesalahan yang kita lakukan selama hidup kita? Dosa terbesar sekalipun mana mungkin kita ungkapkan, apalagi di hadapan rekan-rekan kita.

Buku ini menggunakan latar belakang cerita yang amat simple, tetapi sarat akan makna kehidupan di dalamnya. Diceritakan petualangan dari 7 orang lelaki yang mengumpulkan damar di tengah hutan. Perjalanan mereka awalnya berjalan mulus, damar-damar berhasil dikumpulkan, mereka juga tidak kehabisan bekal makanan. Tetapi dalam perjalanan pulang, terungkap semua dosa masa lalu yang pernah mereka lakukan.

Sanip, Talib dan Sutan; tiga pemuda yang sudah beristri dan anak. Pak Haji, yang dituakan dalam kelompok ini dan djuga dianggap sebagai orang suci dan bijaksana. Pak Balam dengan perawakannya yang agak gendut dan pendiam. Wak Katok, yang dianggap sakti mandraguna dan juga memiliki ‘kekuatan’ di kampung. Dan Buyung, bujang yang paling muda dan menjadi aktor utama dalam kisah Harimau! Harimau! ini.

Pemeran lainnya dalam kisah ini adalah Zubaidah, wanita muda yang dicintai oleh Buyung. Namun, Buyung tidak pernah mengetahui bagaimana isi hati dari Zubaidah sendiri. Di dalam hutan belantara tempat mereka mencari damar juga tinggal seorang yang sakti, guru dari Wak Katok, bernama Wak Hitam. Dipercaya bahwa Wak Hitam ini memiliki peliharaan seekor harimau gaib. Oleh karena itu, Wak Hitam selalu tinggal jauh dari hiruk pikuk desa, karena ingin terus mengasah kemampuan nujumnya. Siti Rubiyah, wanita muda istri dari Wak Hitam. Meskipun timpang, karena Siti Rubiyah masih sangat muda dan segar, sementara Wak Hitam sudah tua dan ringkih, namun Siti Rubiyah tidak memiliki daya untuk menolak Wak Hitam.

Konflik akan mulai berdatangan tatkala dalam perjalanan pulang, Pak Balam diterkam oleh seekor harimau. Meskipun berhasil diselamatkan, akan tetapi luka yang dideritanya cukup parah. Dalam kondisi kritisnya Pak Balam terus-terusan berkata ;

“Awaslah, harimau itu dikirim oleh Tuhan untuk menghukum kita yang berdosa — awaslah harimau dikirim Allah — awaslah harimau — akuilah dosa-dosa kalian — akuilah dosa-dosa kalian.”

Mereka dihantui perasaan bersalah dan bingung. Di satu sisi mereka tentu tidak mau mengakui dosa-dosa yang pernah mereka perbuat. Sementara di sisi lain, mereka tidak mau mati diterkam harimau yang masih berkeliaran di sekitar hutan. Disinilah mulai muncul refleksi-refleksi dari diri mereka yang sebenarnya. Apakah memang sejatinya Pak Haji yang dianggap suci itu benar-benar orang soleh? Apakah Wak Katok itu memang tidak kenal takut? Apakah Sanip, Talib dan Sutan tidak menyimpan rahasia? Apakah Buyung memang masih selugu yang mereka kira?

Sampai akhir dari novel ini, tabiat asli dari para pemeran dalam novel ini akan mulai terkuak. Melalui novel ini, naluri saya mulai bertanya, apakah begitu buruknya moral kita? Apakah setiap kita memiliki topeng yang kita pakai setiap harinya untuk menutupi kebobrokan dalam diri? Kalau begitu, setiap manusia palsu?

Mochtar Lubis menengahkan semua pertanyaan dalam diri saya melalui wejangan – wejangan dari Pak Haji. Dimana, seburuk apapun manusia, kita tetap membutuhkan manusia lain untuk tetap hidup dan saling bergantung.

Kita harus selalu bersedia mengampuni dan memaafkan kesalahan dan dosa-dosa orang lain. Juga kita harus selalu memaafkan dan mengampuni orang-orang yang berdosa terhadap diri kita sendiri …

Submitted to “Membaca Sastra Indonesia 2013”, hosted by mademelani.

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s