1 Perempuan 14 Laki-Laki (2011)

“Kita bisa memesan bir, namun kita tak bisa memesan takdir.”
(Kunang-Kunang dalam Bir; p. 7)

1 Perempuan 14 Laki-Laki (Djenar M. Ayu)

1 Perempuan 14 Laki-Laki (Djenar M. Ayu)

Saya mencintai karya-karya Djenar Maesa Ayu sejak saya sudah mendapatkan SIM untuk membaca buku-buku yang rated-R. I love the way she wrote the stories and let my imagination flew away in every sentence that she said. Dan kali ini, terobosan terbaru yang benar-benar berbeda dari karya sebelumnya. 1 Perempuan 14 Laki-laki, mungkin saya analogikan sejenis gang-bang dalam dunia penulisan. Sistem penulisan yang bergantian antara Djenar dan 14 penulis laki-laki lainnya membuat ceritanya berkembang dan berkembang tanpa bisa ditebak alurnya.

Setiap cerpen menawarkan hal yang berbeda, mengadaptasi dari latar si penulis partner sendiri. Menariknya Djenar tetap mampu meramu kata dan menyesuaikan dengan apa yang 14 laki-laki ini ungkapkan. Lihat saja di “Balsem Lavender” dengan Butet Kartaradjasa yang sarat dengan lelucon khasnya.

Sejak lima tahun lalu, semenjak usianya berkepala tujuh dan ompong merata, Mas Gun telah menyandang gelar anumerta dalam perkara ranjang. Lelaki itu selalu gugur sebelum berperang. Memangnya, perempuan doyan berperang melawan mayat?
(Balsem Lavender, p. 108)

Atau, dalam karyanya bersama Sardono W. Kusumo yang notabene adalah seorang penari Indonesia, ceritanya pun mengalir bak ayunan selendang para penari kromo di pagelaran pagi. Semua tentang menari namun dalam sastra.

Aku pun berubah menjadi panggung. Panggung yang menunggu ia mengisi tiap ruang. Panggung yang bergetar tiap kali tubuhnya menciptakan gerakan.
(Ramaraib, p. 25)

Namun adakalanya, cerita malah anti-klimaks sebelum selesai. Itu menurut saya, karena imajinasi saya masih berkutat untuk meneruskan cerita, tetapi malah ‘yah, udahan cerpennya? gimana dengan ini, dan yang itu?’. Tapi menyatukan isi kepala dua orang yang berbeda bukannya mudah, kan. Apalagi Djenar, menyatukan kepalanya dengan 14 laki-laki lainnya. Benar-benar perkasa.

Bukan Djenar namanya kalau ceritanya tidak ‘nyeleneh’. Semua cerpen karyanya dengan 14 laki-laki ini pun mengemas cerita-cerita ‘dewasa’ dan mengangkat tema yang tentunya tidak kanak-kanak. Saya menyukai semua cerpen, tanpa terkecuali. Mungkin agak berat bagi orang-orang yang hanya ingin membaca bacaan ringan, karena walaupun buku ini ringan, namun bobotnya berat. Tapi buku ini mampu memuaskan hasrat saya untuk mengasah kembali fantasi-fantasi yang digelar tanpa kalimat yang eksplisit.

Submitted to “Membaca Sastra Indonesia 2013”, hosted by mademelani.

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s