Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2010)

Sepotong Bibir Paling Indah

Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita.

(dalam Cerpen Permen, hal, 45)

Ketimbang cerita cinta mencle yang lagi hits di dunia perbukuan saat ini, saya lebih menyukai bacaan yang lebih tersirat maknanya daripada tersurat. Dan kali ini, saya mendapatkan karya Agus Noor dalam buku biru setebal 166 halaman. Sebenarnya saya mencari-cari Memorabilia yang juga karya Agus Noor, tapi, dapet yang lain juga gak rugi kok.

Terdiri dari 9 cerpen yang beberapa diantaranya sudah dipublikasikan di koran Kompas, dan beberapa juga ada yang kembali di-publish di Blognya Mas Agus Noor. Ceritanya beragam, tetapi potongan-potongannya ini tidak lepas dari cerita tentang kesedihan, kekhawatiran, dan mimpi yang tidak sampai.

Cerita tentang ‘Permen’ tidak saya sangka mampu disulap oleh Agus Noor menjadi cerita yang benar-benar berkesan. Permen dan penggalannya tentang hidup yang tidak selamanya semanis permen.

Orang-orang miskin yang hidupnya di kampung-kampung kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan kesedihan mereka. Mungkin proses membuat permen di situ sudah berlangsung lama. Kesedihan dan kegetiran hidup yang mereka rasakan sehari-hari mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke dalam panci-panci rongsokan, kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku penderitaan.

(Permen hal. 47)

Kisah “Cerita yang Menetes dari Pohon Natal” begitu tepat saya baca pada momen-momen Desember ini. Terlepas dari masalah agama, saya sendiri mengagumi bagaimana Agus Noor menyinggung adanya ketimpangan modernitas yang terjadi,

Sudah lama, anak-anak di kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nintendo daripada rosario. Padahal, rosario buatan kami luar biasa. Kamu sudah melihatnya, kan?

(Cerita yang Menetes dari Pohon Natal hal. 93)

Sindiran-sindiran tentang keadaan politik dan sosial juga dihadirkan, secara ‘menyindir’, namun tetap tidak menghapus makna dari kisah yang diceritakan. Intinya, seru!

“Aku sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin, yang baru diperolehnya dari Kelurahan. “Lega rasanya, karena setelah bertahun-tahun hidup miskin, akhirnya mendapat pengakuan juga.”

Kartu Tanda Miskin itu masih bersih, licin, dan mengkilat karena dilaminating. Dengan perasaan bahagia ia menyimpan kartu itu di dompetnya yang lecek dan kosong.

”Nanti, bila aku pingin berbelanja, aku tinggal menggeseknya.

(Perihal Orang Miskin yang Bahagia, hal. 153)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s