Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa (1981)

Pengakuan Pariyem - Linus Suryadi

Pengakuan Pariyem – Linus Suryadi

PARIYEM, nama saya
Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa
Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta
Umur saya 25 tahun sekarang
-tapi nuwun seu
tanggal lahir saya lupa

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 1)

Buku ini lahir, bahkan jauh sebelum saya ada. Namun kisah tentang wanita Jawa ini masih tetap bisa diadaptasikan ke dalam romansa kehidupan gadis-gadis metropolitan saat ini. Mengetuk bagian-bagian yang tak tersentuh, ataupun sering tersentuh tapi dianggap tabu, sehingga hanya diceritakan secara terselubung. Percampuran antara seni budaya Jawa, agama, falsafah dalam hidup sampai kehidupan soal seks. Semuanya diungkap oleh Pariyem dalam pengakuannya, tanpa sehelai bulu namun tetap lugu.

Pariyem memang seorang babu, tapi petuah-petuah hidupnya begitu dalam dia tembangkan. Meskipun kesehariannya hanya berkutat dengan urusan rumah Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Setono, namun Pariyem bercerita banyak tentang masyarakat Jawa, tentang agama.

Dan agama, apakah agama? …
Tapi di sorga, Gusti Allah tak bertanya:
‘Apa agamamu di dunia?’ Tapi Ia bertanya:
‘Kamu berbuat apa di dunia’

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 18)

Pariyem juga memberikan beragam petuah yang diceritakannya berasal dari nenek buyutnya atau orang tuanya dulu sewaktu di kampung.

wong Jawa wis ora nJawani -kata simbah-
karena lupa adat yang diadatkan …
Demikianlah, benih dalam hati saya tertanam:
Sambutlah siapa pun juga dia
dengan sabar dan tenang
Terimalah bagaimana pun juga dia
dengan senyum dan keramahan
Dan jamulah apapun juga dia
dengan ikhlas tanpa kecurigaan

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 58 – 59)

Atau, kisah mengenai percintaannya dengan Den Bagus Ario Atmojo, putra pertama dari Kanjeng Raden tempatnya bekerja. Percintaannya yang dibawa sampai ke ranjang ini dengan gamblang diceritakan, namun tetap dengan rili-rili Jawa yang kental.

ya,ya, raden Bagus Ario Atmojo namanya
Kalau sudah merah matanya seolah jagad gelap gulita
Hasratnya tak bisa dipenggak, ditunda
biar dengan bujuk rayu dan janji segala
O Allah, mbek meong
mbek meong
wog-wog kethekur
wog-wog kethekur
Apabila seorang pria naik berahi
tingkah lakunya penuh emosi
Tingkah lakunya tak berbeda
sama dengan binatang piaraannya
Otaknya macet
nalarnya buntet

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 49)

Oh ya, saya juga belajar satu hal mengenai aksara Jawa yang ternyata memiliki makna tersendiri di balik susunannya. Dulu ayah saya pernah mengajarkannya, bahkan sepertinya ada tabel tulisan Jawa di rumah saya.

hana caraka
data sawala
pada jayanya
maga bathanga

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 45)

Yang artinya

ada utusan
tanpa menolak
sama jayanya
sama menemui bangkainya

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 46)

Saya juga seorang wanita (keturunan) Jawa, agak malu menyebutkannya. Bukan malu karena saya Jawa, tetapi malu mengaku tapi mengaku-aku tanpa sebenarnya tahu apa itu adat Jawa. Dan dalam buku setebal 314 halaman ini, saya benar-benar menemukan kebudayaan wanita Jawa di dalamnya. Saya belajar banyak hal tentang sesuatu hal yang mungkin tidak akan saya ketahui lagi adanya di masa modern. Mungkin bukan sosok Pariyem yang patut diteladani satu sisi, namun di sisi lain, Pariyem si babu ini bisa memberikan beragam petunjuk kehidupan dalam tembang-tembangnya.

PS. Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 14 Reading Challenge  dan 2014 TBRR : Reading File.