Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa (1981)

Pengakuan Pariyem - Linus Suryadi

Pengakuan Pariyem – Linus Suryadi

PARIYEM, nama saya
Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa
Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta
Umur saya 25 tahun sekarang
-tapi nuwun seu
tanggal lahir saya lupa

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 1)

Buku ini lahir, bahkan jauh sebelum saya ada. Namun kisah tentang wanita Jawa ini masih tetap bisa diadaptasikan ke dalam romansa kehidupan gadis-gadis metropolitan saat ini. Mengetuk bagian-bagian yang tak tersentuh, ataupun sering tersentuh tapi dianggap tabu, sehingga hanya diceritakan secara terselubung. Percampuran antara seni budaya Jawa, agama, falsafah dalam hidup sampai kehidupan soal seks. Semuanya diungkap oleh Pariyem dalam pengakuannya, tanpa sehelai bulu namun tetap lugu.

Pariyem memang seorang babu, tapi petuah-petuah hidupnya begitu dalam dia tembangkan. Meskipun kesehariannya hanya berkutat dengan urusan rumah Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Setono, namun Pariyem bercerita banyak tentang masyarakat Jawa, tentang agama.

Dan agama, apakah agama? …
Tapi di sorga, Gusti Allah tak bertanya:
‘Apa agamamu di dunia?’ Tapi Ia bertanya:
‘Kamu berbuat apa di dunia’

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 18)

Pariyem juga memberikan beragam petuah yang diceritakannya berasal dari nenek buyutnya atau orang tuanya dulu sewaktu di kampung.

wong Jawa wis ora nJawani -kata simbah-
karena lupa adat yang diadatkan …
Demikianlah, benih dalam hati saya tertanam:
Sambutlah siapa pun juga dia
dengan sabar dan tenang
Terimalah bagaimana pun juga dia
dengan senyum dan keramahan
Dan jamulah apapun juga dia
dengan ikhlas tanpa kecurigaan

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 58 – 59)

Atau, kisah mengenai percintaannya dengan Den Bagus Ario Atmojo, putra pertama dari Kanjeng Raden tempatnya bekerja. Percintaannya yang dibawa sampai ke ranjang ini dengan gamblang diceritakan, namun tetap dengan rili-rili Jawa yang kental.

ya,ya, raden Bagus Ario Atmojo namanya
Kalau sudah merah matanya seolah jagad gelap gulita
Hasratnya tak bisa dipenggak, ditunda
biar dengan bujuk rayu dan janji segala
O Allah, mbek meong
mbek meong
wog-wog kethekur
wog-wog kethekur
Apabila seorang pria naik berahi
tingkah lakunya penuh emosi
Tingkah lakunya tak berbeda
sama dengan binatang piaraannya
Otaknya macet
nalarnya buntet

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 49)

Oh ya, saya juga belajar satu hal mengenai aksara Jawa yang ternyata memiliki makna tersendiri di balik susunannya. Dulu ayah saya pernah mengajarkannya, bahkan sepertinya ada tabel tulisan Jawa di rumah saya.

hana caraka
data sawala
pada jayanya
maga bathanga

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 45)

Yang artinya

ada utusan
tanpa menolak
sama jayanya
sama menemui bangkainya

(Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, hal. 46)

Saya juga seorang wanita (keturunan) Jawa, agak malu menyebutkannya. Bukan malu karena saya Jawa, tetapi malu mengaku tapi mengaku-aku tanpa sebenarnya tahu apa itu adat Jawa. Dan dalam buku setebal 314 halaman ini, saya benar-benar menemukan kebudayaan wanita Jawa di dalamnya. Saya belajar banyak hal tentang sesuatu hal yang mungkin tidak akan saya ketahui lagi adanya di masa modern. Mungkin bukan sosok Pariyem yang patut diteladani satu sisi, namun di sisi lain, Pariyem si babu ini bisa memberikan beragam petunjuk kehidupan dalam tembang-tembangnya.

PS. Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 14 Reading Challenge  dan 2014 TBRR : Reading File.

Advertisements

Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek

Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek

Saya ingin terlahir kembali di planet lain. Atau mungkin juga di neraka jadi tukang jaga api. Akan saya buktikan kalau kamu, Alex, pasti ada di sana juga.

(dalam Cerpen AL + EX = CINTA)

Mengutip kalimat dalam penggalan cerpen tersebut, tanpa maksud, hanya menyundut.

Djenar Maesa Ayu adalah penulis favorit wanita saya, numero uno. Sama seperti kumpulan cerpen yang sudah diterbitkan sebelumnya, kumpulan cerpen ini juga tetap mengandalkan sisi ‘nyeleneh’ dari sebuah cinta, bahwasannya cinta itu tidak selalu manis. Bahwasannya cinta itu bisa terjadi pada siapa saja terhadap apapun dan dimanapun. Kisah cinta yang ditampilkan juga beragam, terhadap ayah, terhadap sesama, terhadap pria-pria maupun wanita lainnya, berikut juga trauma ke atasnya.

Tidak pernah lengkap rasanya jika membaca kumpulan cerpen Djenar tanpa variasi ‘hubungan’ yang beragam. Istri Yang Tidak Pulang, membawa kita pada sebuah elegi kerapuhan hubungan, kebosanan yang berakhir pada badan.

Tapi apa bedanya? Bagaimana pun bagi saya lebih terhormat melacur demi uang, ketimbang terus melacur demi sebuah lembaga pernikahan. Demi kemunafikan.

(dalam cerpen Istri Yang Tidak Pulang, hal. 82)

Pasien, adalah cerpen yang menyita perhatian saya di detik terakhir penutupan. Titik klimaksnya ada pada akhir kalimat, yang membuat saya kembali lagi membaca cerpen ini dari awal untuk mengungkapkan cerita yang tersembunyi sebelumnya.

Saya menarik nafas lega. Mengambil langkah seribu. Bergegas menuju pintu. Menyingkirkan dari cermin yang membisu.

(dalam cerpen Pasien, hal. 31)

Saya juga menyukai Sera dalam cerpennya hA… HA… Ha.. , dalam koflik keluarga yang (nampaknya sudah lumrah) terjadi. Baru kemarin saya menonton berita tentang seorang ibu tiri yang tega memukuli, menyetrika sampai memotong lidah seorang anak. Bergidik mendengar kenyataannya, dan disini Djenar menuangkannya dalam cerpen.

Saya begitu ingin keluar dari neraka jahanam ini. Saya berdoa. Mencari kata yang begtu sering diucapkan di depan kelas oleh guru sekolah, “Bapa kami yang di surga.” Tuhan. Tapi di rumah saya, saya lebih sering mendengar kata anak setan. Maka saya berdoa mencari bapa saya. Setan.

(dalam cerpen hA… HA… Ha…, hal. 42)

Ke-13 cerpen juga disertai dengan 13 ilustrasi yang turut mewarnai Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek. Ilustrasi digambar langsung oleh Djenar Maesa Ayu dan diselipkan disetiap awal cerpen. Menarik sekali, karena tidak ada yang serupa seperti pada buku Djenar sebelumnya.

Gelap di mana-mana dan saya tak bisa melihat lagi. Binatang itu pun datang lagi.

(dalam cerpen Semalam Ada Binatang, hal. 100)

Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2010)

Sepotong Bibir Paling Indah

Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita.

(dalam Cerpen Permen, hal, 45)

Ketimbang cerita cinta mencle yang lagi hits di dunia perbukuan saat ini, saya lebih menyukai bacaan yang lebih tersirat maknanya daripada tersurat. Dan kali ini, saya mendapatkan karya Agus Noor dalam buku biru setebal 166 halaman. Sebenarnya saya mencari-cari Memorabilia yang juga karya Agus Noor, tapi, dapet yang lain juga gak rugi kok.

Terdiri dari 9 cerpen yang beberapa diantaranya sudah dipublikasikan di koran Kompas, dan beberapa juga ada yang kembali di-publish di Blognya Mas Agus Noor. Ceritanya beragam, tetapi potongan-potongannya ini tidak lepas dari cerita tentang kesedihan, kekhawatiran, dan mimpi yang tidak sampai.

Cerita tentang ‘Permen’ tidak saya sangka mampu disulap oleh Agus Noor menjadi cerita yang benar-benar berkesan. Permen dan penggalannya tentang hidup yang tidak selamanya semanis permen.

Orang-orang miskin yang hidupnya di kampung-kampung kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan kesedihan mereka. Mungkin proses membuat permen di situ sudah berlangsung lama. Kesedihan dan kegetiran hidup yang mereka rasakan sehari-hari mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke dalam panci-panci rongsokan, kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku penderitaan.

(Permen hal. 47)

Kisah “Cerita yang Menetes dari Pohon Natal” begitu tepat saya baca pada momen-momen Desember ini. Terlepas dari masalah agama, saya sendiri mengagumi bagaimana Agus Noor menyinggung adanya ketimpangan modernitas yang terjadi,

Sudah lama, anak-anak di kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nintendo daripada rosario. Padahal, rosario buatan kami luar biasa. Kamu sudah melihatnya, kan?

(Cerita yang Menetes dari Pohon Natal hal. 93)

Sindiran-sindiran tentang keadaan politik dan sosial juga dihadirkan, secara ‘menyindir’, namun tetap tidak menghapus makna dari kisah yang diceritakan. Intinya, seru!

“Aku sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin, yang baru diperolehnya dari Kelurahan. “Lega rasanya, karena setelah bertahun-tahun hidup miskin, akhirnya mendapat pengakuan juga.”

Kartu Tanda Miskin itu masih bersih, licin, dan mengkilat karena dilaminating. Dengan perasaan bahagia ia menyimpan kartu itu di dompetnya yang lecek dan kosong.

”Nanti, bila aku pingin berbelanja, aku tinggal menggeseknya.

(Perihal Orang Miskin yang Bahagia, hal. 153)

Wishful Wednesday #2

wishful-wednesday

Setelah dua minggu yang lalu saya menumpahkan keinginan saya untuk mendapatkan buku The Better Angles of Our Nature : Why Violence Has Declined (Steven Pinker), kali ini saya sedang mencari-cari buku Sastra lama Indonesia yang termasuk dalam Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan. Berjudul “Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer” karya penulis Pramoedya Ananta Toer.

Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer - Pramoedya Ananta Toer

Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer – Pramoedya Ananta Toer

Mengisahkan tentang jugun ianfu, gadis remaja yang menjadi budak seks yang akhirnya dibuang di pulau Buru setelah akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu tahun 1945. Ada bagian dari buku yang menceritakan tentang kehidupan para jugun ianfu ini dari latar belakangnya masing-masing. Beragam latar belakang dari masing-masing wanita ini amat menarik, ditambah dengan bumbu-bumbu mengenai sejarah Indonesia dan Jepang pada masanya.

Dahulu waktu SMP, saya sudah pernah membaca buku ini dari perpustakaan sekolah. Sudah lama sekali rasanya, dan samar-samar ingatan saya tentang apa buku ini. Beberapa kali membaca review tentang buku ini terutama dari Goodreads, buku ini memang layak untuk dibaca kembali dan kali ini untuk dimiliki. Dan terus terang, saya sudah mencari ke seantero jakarta (red. OK, ini berlebihan, karena belum termasuk Blok M) buku Perawan Remaja ini, namun hasilnya endok besar. Jadinya ya, saya berharap siapa saja yang pernah melihatnya di suatu tempat sana bisa memberitahu saya.

Apa Wishful Wednesday-mu kali ini?

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr Linky. Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

3 Cinta 1 Pria (2008)

3 Cinta 1 Pria - Arswendo Atmowiloto

3 Cinta 1 Pria – Arswendo Atmowiloto

Bagaimana kalau kita jatuh cinta pada seseorang, namun tak sampai? Kemudian orang itu menikah dan punya anak, dan anaknya juga jatuh cinta kepada kita? Dan kemudian terulang lagi, ketika si cucu ini juga ternyata jatuh cinta kepada orang yang seumuran kakeknya sendiri?

Arswendo Atmowiloto kali ini mengangkat tema cinta tiga generasi dalam “3 Cinta 1 Pria”. Bong, pria utama yang sepertinya beruntung karena dicintai oleh tiga generasi wanita ini, tetapi dia tidak bergeming juga. Bong, mencintai seorang gadis yang dipanggilnya Keka, bisa bermakna Kekasih, karena pun dia tidak tahu nama asli dari Keka. Cinta mereka menggebu, namun ragu.

Kalau nanti kita kawin, bukan berarti aku mengharapkan kamu berubah menjadi ibu anak-anak kita, …
Kita kawin, karena kita percaya dalam tidur, mimpi kita bisa tetap berlainan. (hal. 18)

Cerita Bong dan Keka amat ideal, andai mereka benar-benar menyatu. Keka akhirnya menikah dengan lelaki lain, namun dia tetap mencintai Bong. Bong yang sederhana dalam hidupnya, berprinsip lebih besar dari kepalanya, tetapi tetap berperasaan halus dengan Keka. Bong tetap menunggu Keka, meskipun dalam kesendiriannya.

“Menunggu itu syahdu.” (hal. 20)

Sampai akhirnya Keka memiliki anak, yang juga diberi nama Keka. Keka kecil kemudian tumbuh besar, menyukai Bong sejak kecil, meskipun hamil oleh laki-laki lain. Keka kecil bersama akhirnya Bong, yang kemudian membantu menyelamatkan bayinya. Lalu Keka Kecil junior itu juga diberi nama, Keka Siang. Keka Siang tumbuh menjadi remaja, dan kemudian juga jatuh cinta pada Bong.

Kejelasan tidak diperlukan jika hasilnya membuat sakit hati.” atau : “Tidak semua perlu terang dan jelas.” atau :”Alam ini mengajarkan, bahkan di siang hari tetap ada bagian yang tak apa harus samar-samar.” (hal. 144).

Menarik memang, cinta tiga generasi pada lelaki yang sama ini. Namun terlihat begitu romantis cintanya Bong kepada Keka. Ceritanya juga mengalir diantara petuah-petuah mengenai kehidupan dan cinta itu sendiri. Itik, lele, lukisan, dan pohon talok, kehidupan Bong berjalan meskipun cintanya tak mesti bersatu. Saya suka lelaki yang dilukiskan sebagai Bong ini, misterius, tidak tertebak, tetapi amat setia pada kekasih tak sampainya.

1 Perempuan 14 Laki-Laki (2011)

“Kita bisa memesan bir, namun kita tak bisa memesan takdir.”
(Kunang-Kunang dalam Bir; p. 7)

1 Perempuan 14 Laki-Laki (Djenar M. Ayu)

1 Perempuan 14 Laki-Laki (Djenar M. Ayu)

Saya mencintai karya-karya Djenar Maesa Ayu sejak saya sudah mendapatkan SIM untuk membaca buku-buku yang rated-R. I love the way she wrote the stories and let my imagination flew away in every sentence that she said. Dan kali ini, terobosan terbaru yang benar-benar berbeda dari karya sebelumnya. 1 Perempuan 14 Laki-laki, mungkin saya analogikan sejenis gang-bang dalam dunia penulisan. Sistem penulisan yang bergantian antara Djenar dan 14 penulis laki-laki lainnya membuat ceritanya berkembang dan berkembang tanpa bisa ditebak alurnya.

Setiap cerpen menawarkan hal yang berbeda, mengadaptasi dari latar si penulis partner sendiri. Menariknya Djenar tetap mampu meramu kata dan menyesuaikan dengan apa yang 14 laki-laki ini ungkapkan. Lihat saja di “Balsem Lavender” dengan Butet Kartaradjasa yang sarat dengan lelucon khasnya.

Sejak lima tahun lalu, semenjak usianya berkepala tujuh dan ompong merata, Mas Gun telah menyandang gelar anumerta dalam perkara ranjang. Lelaki itu selalu gugur sebelum berperang. Memangnya, perempuan doyan berperang melawan mayat?
(Balsem Lavender, p. 108)

Atau, dalam karyanya bersama Sardono W. Kusumo yang notabene adalah seorang penari Indonesia, ceritanya pun mengalir bak ayunan selendang para penari kromo di pagelaran pagi. Semua tentang menari namun dalam sastra.

Aku pun berubah menjadi panggung. Panggung yang menunggu ia mengisi tiap ruang. Panggung yang bergetar tiap kali tubuhnya menciptakan gerakan.
(Ramaraib, p. 25)

Namun adakalanya, cerita malah anti-klimaks sebelum selesai. Itu menurut saya, karena imajinasi saya masih berkutat untuk meneruskan cerita, tetapi malah ‘yah, udahan cerpennya? gimana dengan ini, dan yang itu?’. Tapi menyatukan isi kepala dua orang yang berbeda bukannya mudah, kan. Apalagi Djenar, menyatukan kepalanya dengan 14 laki-laki lainnya. Benar-benar perkasa.

Bukan Djenar namanya kalau ceritanya tidak ‘nyeleneh’. Semua cerpen karyanya dengan 14 laki-laki ini pun mengemas cerita-cerita ‘dewasa’ dan mengangkat tema yang tentunya tidak kanak-kanak. Saya menyukai semua cerpen, tanpa terkecuali. Mungkin agak berat bagi orang-orang yang hanya ingin membaca bacaan ringan, karena walaupun buku ini ringan, namun bobotnya berat. Tapi buku ini mampu memuaskan hasrat saya untuk mengasah kembali fantasi-fantasi yang digelar tanpa kalimat yang eksplisit.

Submitted to “Membaca Sastra Indonesia 2013”, hosted by mademelani.

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Harimau! Harimau! (1992)

Bunuhlah dulu harimau dalam dirimu …

Harimau! Harimau! by Mochtar Lubis

Harimau! Harimau! by Mochtar Lubis

Pernahkah kita berpikir bahwa mungkin sewaktu-waktu kita harus mengungkapkan semua dosa kita dihadapan manusia lain untuk menyelamatkan diri sendiri? Pernahkah kita terfikir untuk mengakui semua kesalahan yang kita lakukan selama hidup kita? Dosa terbesar sekalipun mana mungkin kita ungkapkan, apalagi di hadapan rekan-rekan kita.

Buku ini menggunakan latar belakang cerita yang amat simple, tetapi sarat akan makna kehidupan di dalamnya. Diceritakan petualangan dari 7 orang lelaki yang mengumpulkan damar di tengah hutan. Perjalanan mereka awalnya berjalan mulus, damar-damar berhasil dikumpulkan, mereka juga tidak kehabisan bekal makanan. Tetapi dalam perjalanan pulang, terungkap semua dosa masa lalu yang pernah mereka lakukan.

Sanip, Talib dan Sutan; tiga pemuda yang sudah beristri dan anak. Pak Haji, yang dituakan dalam kelompok ini dan djuga dianggap sebagai orang suci dan bijaksana. Pak Balam dengan perawakannya yang agak gendut dan pendiam. Wak Katok, yang dianggap sakti mandraguna dan juga memiliki ‘kekuatan’ di kampung. Dan Buyung, bujang yang paling muda dan menjadi aktor utama dalam kisah Harimau! Harimau! ini.

Pemeran lainnya dalam kisah ini adalah Zubaidah, wanita muda yang dicintai oleh Buyung. Namun, Buyung tidak pernah mengetahui bagaimana isi hati dari Zubaidah sendiri. Di dalam hutan belantara tempat mereka mencari damar juga tinggal seorang yang sakti, guru dari Wak Katok, bernama Wak Hitam. Dipercaya bahwa Wak Hitam ini memiliki peliharaan seekor harimau gaib. Oleh karena itu, Wak Hitam selalu tinggal jauh dari hiruk pikuk desa, karena ingin terus mengasah kemampuan nujumnya. Siti Rubiyah, wanita muda istri dari Wak Hitam. Meskipun timpang, karena Siti Rubiyah masih sangat muda dan segar, sementara Wak Hitam sudah tua dan ringkih, namun Siti Rubiyah tidak memiliki daya untuk menolak Wak Hitam.

Konflik akan mulai berdatangan tatkala dalam perjalanan pulang, Pak Balam diterkam oleh seekor harimau. Meskipun berhasil diselamatkan, akan tetapi luka yang dideritanya cukup parah. Dalam kondisi kritisnya Pak Balam terus-terusan berkata ;

“Awaslah, harimau itu dikirim oleh Tuhan untuk menghukum kita yang berdosa — awaslah harimau dikirim Allah — awaslah harimau — akuilah dosa-dosa kalian — akuilah dosa-dosa kalian.”

Mereka dihantui perasaan bersalah dan bingung. Di satu sisi mereka tentu tidak mau mengakui dosa-dosa yang pernah mereka perbuat. Sementara di sisi lain, mereka tidak mau mati diterkam harimau yang masih berkeliaran di sekitar hutan. Disinilah mulai muncul refleksi-refleksi dari diri mereka yang sebenarnya. Apakah memang sejatinya Pak Haji yang dianggap suci itu benar-benar orang soleh? Apakah Wak Katok itu memang tidak kenal takut? Apakah Sanip, Talib dan Sutan tidak menyimpan rahasia? Apakah Buyung memang masih selugu yang mereka kira?

Sampai akhir dari novel ini, tabiat asli dari para pemeran dalam novel ini akan mulai terkuak. Melalui novel ini, naluri saya mulai bertanya, apakah begitu buruknya moral kita? Apakah setiap kita memiliki topeng yang kita pakai setiap harinya untuk menutupi kebobrokan dalam diri? Kalau begitu, setiap manusia palsu?

Mochtar Lubis menengahkan semua pertanyaan dalam diri saya melalui wejangan – wejangan dari Pak Haji. Dimana, seburuk apapun manusia, kita tetap membutuhkan manusia lain untuk tetap hidup dan saling bergantung.

Kita harus selalu bersedia mengampuni dan memaafkan kesalahan dan dosa-dosa orang lain. Juga kita harus selalu memaafkan dan mengampuni orang-orang yang berdosa terhadap diri kita sendiri …

Submitted to “Membaca Sastra Indonesia 2013”, hosted by mademelani.

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Sketsa – Sketsa Umar Kayam : Mangan Ora Mangan Kumpul (1995)

 Mangan ora Mangan Kumpul (Umar Kayam)

Mangan ora Mangan Kumpul (Umar Kayam)

Jauh sebelum saya mengetahui kumpulan kisah banyolan ala Pak Umar Hayam ini, saya hanya mengetahui beliau dari kumpulan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Buku itu pun saya dapatkan sebagai hadiah dari acara Pak Putu Wijaya di kampung halaman saya dulu. Dan ternyata, saya lebih menyukai kisah banyolan Pak Umar ketimbang cerpen singkatnya di Manhattan itu.

Mangan Ora Mangan Kumpul (1995) ini seperti refleksi dari kehidupan Umar Kayam sendiri. Tokoh-tokoh utama yang bermain dalam kumpulan cerpen ini, dirasakan amat sangat dekat dengan kehidupan. Seperti pemeran Pak Ageng sebagai main actor, merupakan gambaran dari Umar Kayam seutuhnya. Kemudian Mr. Rigen yang sebenarnya abdi dari Pak Ageng (namanya kece, seperti nama mantan presiden AS Ronald Reagen), Mrs atau Ms. Nansiyem (penggunan Mrs. atau Ms. tergantung situasi), anak mereka Beni Prakosa (yang lahir pada hari ABRI dan diharapkan menjadi seorang ABRI ketimbang kenek kereta karena sering meneriakkan Solo – Plambanan) dan penjual ayam penggeng Mas Joyoboyo.

Kehidupan yang simpel itu, diceritakan secara lebih kompleks dengan mengibaratkan rumah Pak Ageng sebagai sebuah negara. Mr. Rigen sebagai ketua dari kitchen cabinet, sementara Mrs. Rigen bertindak sebagai menteri ekonominya. Lalu kemudian akan muncul tokoh-tokoh pendukung lainnya yang semarak silih berganti mengambil cerita dalam penggalan cerpen-cerpennya.

Jadi, adalah kisah Never On Sunday dimana Pak Ageng tidak bisa berpuasa karena sakit. Mas Joyoboyo si penjual ayam penggeng juga menjajakan dada dan paha yang empuk di depan Pak Ageng. Malu karena tidak puasa, tetapi juga sudah ketauan oleh Mas Joyoboyo ini. Ini potongan omongan Mas Joyoboyo yang mak jleb tapi kocak.

“Saya juga tidak pasa kok, Den. Wong saya mesti menjaja ngalor-ngidul, ngetan bali ngulon, cari makan buat anak ini. Mosok Gusi Allah tidak paring ampun, nggih, Den?”

Saya cuma bisa manggut-manggut tanpa teges, mulutku masih belepotan selei stoberi.

“Apalagi menurut Den Bei Curiga Naraka, sing penting itu batine kalau pasa, Den. Kalau batine resik dan kuat, lha… mbok minum es kopyor ditambah bistik komplit dikunyah nyas-nyis-nyus waktu pasa siang bolong begini ya tidak apa-apa, Den. Mak legenderr… masuk mulut tapi tidak terasa makan. Itu, Den, menurut Den Bei Curiga Naraka pasa kelas paling tinggi.”

Well, I bet you understand this joke. Sindiran halus buat yang berpuasa tapi… atau yang tidak berpuasa tapi…

Lalu, ada lagi kisah mengenai Oleh-oleh yang disinggung sebagai asal muasal korupsi di negeri ini.

Seorang pengamat ekonomi, yang saya lupa namanya, melihat hubungan yang jelas antara budaya oleh-oleh dengan korupsi di negeri kita. Katanya korupsi di negeri kita baru akan berhenti betul, tuntas sampai ke akarnya, bila budaya oleh-oleh sudah lenyap dari muka bumi negeri kita ini. …

Pengamat tersebut sudah tidak lagi melihat batasan antara oleh-oleh dan upeti. Meskipun harus diakui juga bahwa semua yang datang membawa barang bawaannya itu sebagai oleh-oleh . Itu berarti istilah oleh-oleh dianggap sebagai istilah yang netral dan tidak mengundang tusukan perasaan. Upeti jelas membawa pesan : untuk sesuatu ada sesuatu. Sang Bupati taklukan membawa upeti kepada sang raja agar tidak diserang wilayahnya. Sang Bupati sekarang membawa oleh-oleh buat bapak Gubernur? Ya, supaya lancar pembangunan wilayahnya …

Jadi pada intinya, hanya perbedaan di istilahnya saja. Yang satu sebagai upeti, sementara lainnya adalah oleh-oleh. Bermain di denotasi dan konotasi maknanya saja, tho.

Sebagai orang keturunan Jawa, saya tidak terlalu fasih dalam berbahasa. Namun kata-kata pada buku ini meskipun bercampur dengan boso jowo, tapi tidak mengurangi pemahaman saya mengenai maknanya. Ada istilah jawa yang dicerpenkan dalam buku ini yaitu Mikul Dhuwur Mendhem Jero yang artinya memikul tinggi-tinggi, menanam dalam-dalam.

Kisah “Kami Bangsa Tempe” juga unik, menceritakan mengenai rencana Pak Ageng untuk mengencangkan ikat pinggang akibat mengeringnya anggaran rumah tangga pasca bulan Syawal. Disini Umar Kayam mencampurkan istilah-istilah perekonomian dalam bahasa sehari hari.

Bulan Syawal yang panjang belum habis dan Mr. Rigen & staf dengan patuh dan penuh profesionalisme melaksanakan garis kebijaksanaan ekonomi-finansial-budgetair yang telah saya gariskan. Karena keringnya dana tentulah deregulasi juga saya terapkan. Artinya, saya tidak terlalu menuntut yang macam-macam. Namun demikian, justru karena anggaran kering itulah, saya telah menuntut kitchen cabinet saya untuk bisa lebih kreatif lagi. Ekspor non migas juga saya galakkan dan saya tuntut pula kreatifitas mereka. Koran-koran lama. Majalah dan beberapa brosur diekspor Rigen ke tukang loak untuk merentang panjang anggaran.

Di akhir cerita mengenai pengetatan anggaran makan di rumah Pak Ageng, Pak Ageng terkesima dengan kekuatan dari para anggota kitchen cabinetnya yang makan seadanya. Karena dirinya saja makan tempe, bagaimana para abdinya?

Oh, kitchen cabinet-ku yang kompak. Aku tahu sekarang mengapa para ahli ekonomi kita begitu pasti dan gagah mengatakan bahwa “daya tahan ekonomi rakyat desa masih kuat”.

Submitted to “Membaca Sastra Indonesia 2013”, hosted by mademelani.

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

Membaca Sastra Indonesia 2013 Challenge

The Kreutzer Sonata (1889)

The Kreutzer Sonata Cover

“It is amazing how complete is the delusion that beauty is goodness.”

Warning : this book is not recommended for man who will walk in the aisle tomorrow or spell their life-time agreement with his future-woman tomorrow. Any consequences to withdraw your married will be on your own commitment.

This is a controversial novella -well no wonder-, written by Leo Tolstoy more than a century before I was born. I know Tolstoy from his ‘War and Peace’ and one of his quotation that I remembered on that master piece, stated

I simply want to live; to cause no evil to anyone but myself.
(War and Peace)

Well, put aside my blabbering about ‘War and Peace’, now I move to tell you the story of ‘the Kreutzer Sonata’. I wonder, why did I bought this little novela? Well, the controversial things are stated behind of this book – which stated in Indonesian-, saying that

… perempuan menguasai lelaki dengan pakaian dan segala asesoris mereka yang menggugah hasrat seksual lelaki. Secara kasat mata, perempuan memposisikan diri sebagai objek yang dinikmati lelaki; lelaki yang memilih perempuan. Namun tanpa disadari, lelaki telah terjebak. Berhenti di titik ini, perempuanlah yang memilih lelaki; berkuasa atas lelaki.

Then I picked up the book and queue to cashier. I wonder, what Tolstoy wanted to share to us moreover do my ‘feminist’ side will be disturbed by his writing. In fact, rather than being disturbed, I feel sorry over Tolstoy -or what he called Posdnicheff in this novela.

Main character of this novela named Posdnicheff, an old man who overhears chit-chat among passengers in the train about love and marriage. He gave his opposite perspective towards marriage and the value of marriage sacredness. He argued that

” Dan kemudian apa? Kata Anda pernikahan didasarkan pada cinta, dan ketika saya menyatakan keraguan tentang adanya cinta selain cinta hawa nafsu, Anda membuktikan kepada saya keeradaan cinta dengan pernikahan. Tetapi pada zaman kita ini pernikahan hanyalah sebuah kekerasan dan kekeliruan.”

What was said by this old man wasn’t a bluff. The entire argument was based on his own experiences on marriage. He fell in love, he got married, he out of loved and murdered his wife.

Anti physical contact, Anti-birth control, Sexist and at last (i think) seems to justify murder. Posdnicheff justified his action to murder his own wife as she might have cheated on him – even he didn’t really see the prof at all. Under several circumstances, this book is written really well which can be appreciated as Tolstoy dare to create such contradiction on marriage. Even though several might disagree and censored by Russian authorities.

Started with Posdnicheff little story about his slumber marriage life that was created since he was child;

“.., sejak kecil saya sudah mengimpikan akan menjalani kehidupan rumah tangga yang agung dan puitis. Istri saya kelak adalah seorang wanita sempurna, perasaan saling mencintai di antara kami tiada banding, kesucian hidup di rumah tangga kami benar-benar tanpa cela. Saya berpikir demikian, dan saya selalu terkagum-kagum dengan kemuliaan cita-cita saya.”

Then all of the story flew away on to his teenager life as a well-mannered man, which may you find not so true. That’s the way of he think he was. And finally in his last thirty, he ended his adventure when he met a young lady. He perfectly pictured his future lady to spent his entire life in this woman, but in the end he was wrong. As he said ;

Ya, dan saya juga terperangkap gara-gara baju rajutan, kerangka rok, dan rambut keriting

Well, I can’t easily picture the entire story in short to get the morale. You need to read it first before assumed that is it about anti-feminist, or is it about a crazy man who killed his wife or is it about. What I can say positively that Posdnicheff wanted to us to get the pessimistic side of love and marriage it self before you really fell in. That is why, this book isn’t recommended for those who will getting married soon -afraid that it might increase your skepticism about your future plan.

The Metamorphosis (1915)

One morning, when Gregor Samsa woke from troubled dreams, he found himself transformed in his bed into a horrible vermin.

(The Metamorphosis: p.1)

Franz Kafka, man behind this book, started his imagination with these very words. He played well with the readers imagination, where he leaved us with clues of Gregor Samsa’s transformation.

He lay on his armour-like back, and if lifted his head a little he could see his brown belly, slightly domed and dived by arches into stiff sections.

His many legs, pitifully thin compared to the size of the rest of him,…

…”Did you hear the way Gregor spoke just now? That was the voice of an animal.”

He pushed himself over to the door, feeling his way clumsily with his antennae – of which he was now beginning to learn the value – in order to see what had been happening there.

kafka-the-metamorphosisWell, I imagined Gregor Samsa transformed into a big lice or cockroaches or even sometimes I imagined a new kind of insects. Apart of all, Kafka didn’t want to focus on how the transformation began, why did it happen or else. Here, he wanted to say something in the extreme ways as “How if I became a creepy-creature?”. Where “creepy” may have extensive meaning, Kafka brought it as an animal.

Gregor Samsa was a hardworking-man and one of the main-backbone of his family. He was a traveling salesman who is very committed towards his job. In the story, what passed in his mind on the first time when he woke up is about his job. But then the story goes on where he actually can’t work anymore with those transformation.

The changing of his family attitude’s towards his metamorphosis also quite intriguing. Well, who will accept freely a sudden change from one of family member to be a huge insect? Before it happened, his family is quite a small-happy fam where he has one younger sister named Gretta and parents. After his metamorphosis, Gretta is the first one who brave enough to enter his room, gave him food, cleaned out the garbage and anything. And along the day, Gregor was just crawling inside his room. The warmest of his family is slowly dissolved. As he was locked up in his room and just several times peeking up through small crack in his room to see what happened outside.

With his metamorphosis, he couldn’t able to go to work. None can help his fam’s economy condition. Because of that, his parents rented their rooms over three men. These three man didn’t know that Gregor in his creature lived along with them. Until someday, Gregor was caught inside of his room where he wanted to see his sister whom played violin infront of these three men. Because of these incident, then …

Well, many readers of this book said different meanings and different value. In my opinion, here Kafka wanted to show us how that changing in ourselves may caused a big effect in your family (esp. if you are transforming into a cockroach). Whereby, Samsa’s family can’t stand with this transformation, where they can’t accept the harsh reality. How about your family? If you are the golden kid and the biggest hope of your family, suddenly something bad happened to you, will your family do the same as Samsa’s? Or do they will oppositely support you? None can predict it. Except if you already metamorphosed to be Gregor.