SYBIL : Kisah Nyata Seorang Gadis dengan 16 Kepribadian (1973)

SYBIL  Kisah Nyata Seorang Gadis dengan 16 KepribadianPernahkah kita merasakan kehilangan waktu? Tiba – tiba kita terbangun di hari yang jauh berbeda di kota yang jauh dari tempat tinggal kita secara mendadak? Kalau bukan karena mabuk, mungkin karena yang dikisahkan dalam novel kali ini, Berkepribadian Majemuk. Saya tidak pernah menyangka bahwa kehidupan akan menjadi serumit itu dengan memiliki kepribadian majemuk yang secara ‘aktif’ mengisi hidup kita, sementara kita yang ‘nyata’ ini akan merasa tertidur pulas dan lupa akan segalanya.

Saya tidak akan pernah membaca buku fenomenal ini, jika tidak direkomendasikan oleh seorang teman saya yang mengambil jurusan psikologi pendidikan. Thanks to her, I knew a lot of things about human mind .

Novel ini adalah novel terjemahan dengan judul asli ‘SYBIL’ diterbitkan pertama kali tahun 1973. Flora Rheta Schreiber, penulis dari kisah nyata yang akhirnya menjadi sebuah novel fenomenal ini akan memperkenalkan dirinya di akhir cerita sebagai bagian dari hidup Sybil setelah masa “Penyatuan”. Yang menarik dari novel ini dan menjadi pertanyaan awal ketika membacanya adalah ‘ Apa saja ke-16 kepribadian tersebut? Apa bedanya satu sama lain?’. Menariknya, novel ini dibuat dengan tidak mengungkapkan fakta secara langsung, tetapi perlahan demi perlahan, kita akan dibawa kepada suatu dimensi untuk mengenal jauh Sybil dan Sybil ‘lainnya’.

Sybil Isabel Dorsett adalah seorang wanita muda, pintar (baik dalam akademik maupun seni) namun sering mengalami ‘kehilangan waktu’. Dr. Wilbur hadir di dalam hidup Sybil sebagai seorang dokter sekaligus sahabat yang ingin membantu Sybil ‘mengembalikan’ hidupnya. Di awali dari kisah di suatu malam, ketika Sybil tiba-tiba tersadar telah berada di tengah badai salju di kota Philadhelpia, sementara kenyataannya Sybil tinggal di New York. Dia tidak ingat bagaimana dia bisa tiba disana, dia tidak mengerti alasan dia berada di sana. Yang dia ingat, tiga hari yang lalu dia baru keluar dari laboratorium kimia di kampusnya.

Dalam novel ini, melalui Dr. Wilbur kemudian kita akan mengenal ke-16 kepribadian yang hadir di dalam diri Sybil dan memberikan ‘image’ yang berbeda-beda. Vicky (atau Victoria) adalah kepribadian Sybil yang menyenangkan dan selalu positif. Vicky pula yang banyak ‘membantu’ Dr. Wilbur untuk bernegosiasi dengan kepribadian lainnya. Peggy Ann dan Peggy Lou adalah kepribadian Sybil yang lebih sensitif dimana kemarahan dan kesedihan yang terpendam dalam diri Sybil akan direfleksikan melalui kedua Peggy ini. Peggy Ann dan Peggy Lou ini juga yang ‘mengambil alih’ Sybil selama hampir dua tahun ketika Sybil kehilangan neneknya tercinta. Ada lagi Ruthie, kepribadian Sybil yang nampak seperti anak-anak dan memang anak-anak, karena menurut pengakuannya (Ruthie) dia masih berusia 3 tahun. Dan masih banyak kepribadian – kepribadian lainnya seperti Marcia, Vanessa, Mary, Helen, Clara, Sybil Ann, The Blonde, Marjorie, Nancy Lou Ann, Sid dan Mike. Sid dan Mike ini menarik, karena bukan hanya mereka adalah ‘split personality’ dari Sybil tetapi juga keduanya menyakini diri mereka adalah laki-laki.

Menariknya, keseluruhan ‘split personality’ ini mampu berkomunikasi di bawah alam sadar Sybil. Jadi meskipun mereka berkomunikasi menggunakan raga Sybil, tetapi Sybil tidak pernah mengetahui dan menyadarinya.

Masing-masing pribadi itu berbeda satu sama lain dan dari Sybil; semua tahu akn adanya Sybil dan pribadi-pribadi lainnya. Akan tetapi Sybil sendiri tidak mengetahui tetnag yang lain sampai Dr. Wilbur menceritakannya. (Hal. 319)

Kemudian pertanyaan lain kembali muncul, bagaimana Sybil dapat mengalami kepribadian majemuk yang begitu banyaknya dan masing-masing kepribadian tersebut nampak seperti kepribadian dari orang-orang yang berbeda. Ini adalah beberapa potongan jawaban yang diutarakan oleh Dr. Wilbur dalam novel ini.

Pada awal 1957, dalam analisis diungkapkan suatu drama tentang kekejaman, upacara-upacara rahasia dan hal-hal yang mengerikan yang dilakukan oleh Hattie terhadap Sybil. Dr. Wilbur menjadi yakin bahwa akar penyebab perpecahan kepribadian Sybil adalah tema drama itu yang bersifat penyiksaan-penawanan-pengontrolan-pemenjaraan yang sangat rumit.  (Hal. 214)

Akar-akar peyebab keadaan Sybil yang rumit ini – ibu yang schinzophrenic ditambah dan dihasut oleh ayah yang pasif dan acuh tak acuh, lingkungan masyarakat yang fanatik yang menimbulkan histeria, khususnya yang ditunjukkan oleh Kakek Dorsett. (Hal. 317)

Lalu halaman demi halaman dalam novel ini akan mulai mengupas kehidupan Sybil dari mulai masa kecilnya sampai masa sekarang. Tidak hanya mengenai Sybil, novel ini juga mengupas latar belakang kedua orang tuanya, Hattie dan Williard Dorsett. Karena suka tidak suka, kepribadian yang dimiliki oleh seorang anak dipengaruhi besar oleh lingkungan terutama kedua orang tuanya. Ini yang menjadikan menarik dalam penyelesaian kasus dari Sybil, karena kita akan diajak lebih mengenal satu sama lain, termasuk mengenal bagian-bagian yang pernah ada dalam hidup Sybil.

Novel ini benar-benar menarik dan mudah dipahami, meskipun dibaca oleh orang yang buta mengenai penyakit-penyakit psikologi (seperti saya). Bagi yang awam, kita akan diajak untuk mengenal Sybil dengan berteman dan bersimpatik kepadanya. Sementara, mungkin bagi para mahasiswa psikologi, mereka akan menggarisbawahi beberapa pernyataan-pernyataan dari Dr. Wilbur yang dianggap penting dalam analisa psikologis dari Sybil.

Satu hal yang masih sedikit mengganjal bagi pribadi saya. Dalam percakapan bersama Dr. Wilbur, salah satu personaliti dari Sybil ketika dia menentang bahwa masing-masing dari mereka adalah orang yang sama.

“…tidakkah Anda mengerit bahwa mereka (split personality) adalah bagian-bagian yang berbeda dari orang yang sama?”

“Tetapi Dr. Wilbur,” Vicky bersikeras, “kita sudah menjawab persoalan itu. Kita sudah pastikan jawaban terhada pertanyaan yang bersifat filsafat siapakah saya? Saya adalah saya. Anda adalah nda. Saya berpikir, karena itu saya ada. Ada kalimat latin untuk itu : Cogito ergo sum. Ya itulah dia.”

Jadi, jika seandainya masing-masing personality menerapkan prinsip Cogito Ergo Sum ini dalam masing-masing mereka, apakah ada kemungkinan Sybil bisa ‘menyatu’? Tetapi ada benarnya juga, jika kita berpikir maka kita ada, apakah memang benar ‘split personality’ ini benar hidup dalam dunia nyata? Bagaimana kalau kita yang merupakan ‘bagian tambahan’ sementara yang lainnya adalah ‘bagian nyata’? Only God Knows.

A Child Called ‘IT’ (2005)

For my personal opinion, I hate to read this novel. Bukan karena novelnya yang jelek atau ceritanya yang tidak menarik, tapi karena saya terlalu mendalami karakter dari David atau Dave – the main personality in this novel. As a child-abused victim, Dave has a really massive courage to stay alive. Dari judulnya sendiri pun, kita sudah bisa merasakan “abuse”. A Child Called ‘it’ atau seorang anak yang dipanggil dengan istilah pengganti kata benda dan hewan. Isn’t it insane?! Hereby, I told you little bit synopsis of this novel.

A Child Called It CoverDavid diceritakan adalah anak laki-laki yang masih berusia dini namun mengalami penyiksaan yang tidak terkira oleh ibu kandungnya sendiri. Novel ini menceritakan kehidupan David dari usia 4 sampai 12 tahun, dari mulai masa bahagia sampai masa siksaan yang dirasakannya bertubi-tubi.

The greatest things that the writer did in this novel is, you are dragged to think as a child. Ketika terjadi abuse oleh keluarga inti sendiri, terutama ibu sendiri, seorang anak kecil tidak pernah bertanya mengapa ibunya begitu atau bersikap ingin membalas ibunya. Secara naluri, seorang anak kecil hanya akan bisa menerima perlakuan dari ibunya dan berharap si ibu akan kembali baik seperti sedia kala.

Aku tahu ada sesuatu yang betul-betul tidak beres, tapi aku terlalu takut untuk mengeluarkan suara. Jadi aku duduk saja di situ, memandangi makananku.

Dan bahkan, dari seluruh siksaan yang diterimanya, Dave masih rindu dengan ibunya. Suatu saat Dave berusaha lari dari rumah bibinya, tempat Dave tinggal untuk sementara.

Aku mencoba mengatakan pada Ibu bahwa aku melarikan diri karena aku ingin bersamanya dan keluarga. Aku mencoba mengatakan padanya bahwa aku merindukannya, tetapi Ibu tidak mengizinkan aku berbicara. Aku mencoba mengatakannya sekali lagi, tapi Ibu bergegas ke kamar mandi, mengambil sebatang sabun, lalu menjejalkannya ke mulutku.

Sampai pada titik nadir diceritakan Dave mencari perlindungan kepada ayahnya dari perbuatan ibunya yang semakin lama semakin kejam terhadapnya.

“Ayah… I… I… Ibu menusukku”.

Ayah bahkan tidak mengangkat alis matanya, apalagi menoleh. “Kenapa?” tanyanya.

“Dia bilang, kalau aku tidak menyelesaikan tuga mencuci perkakas tepat pada waktunya, dia.. dia akan membunuhku”.

Waktu seakan berhenti. Dari balik koran aku bisa mendengar napas Ayah yang jadi berat. Ia menelan ludah, lalu berkata, “Ya… kau ah… kau lebih baik kembali ke dapur dan menyelesaikan tugasmu mencuci piring.”

Sosok ayah dalam buku ini tidak mencerminkan sesosok ayah yang harusnya mampu melindungi anaknya dari berbagai ancaman. Sosok ayah David adalah ayah yang tidak peduli dan ingin menghindari dari masalah di rumahnya. Kedua kakaknya yang berusia tidak jauh dari Dave juga enggan membantu Dave, malahan bersikap acuh seakan mereka tidak memiliki anggota keluarga bernama David.

Mungkin sebagai naluri manusia dewasa, kita akan berpikir untuk lari dari rumah atau meminta pertolongan dengan orang luar. Tidak dengan Dave, dia masih mencintai keluarganya sesulit apapun kehidupannya. Dalam novel ini, kita diminta ‘menikmati’ kekejaman hidup yang dirasakan Dave tanpa bertanya ‘Mengapa?’.

______________________________________________________

Is it crazy? Dari kisah Child Abuse yang sering terdengar di berita atau dikisahkan di buku ini, membuat saya menyadari ada kalanya kehidupan seorang anak itu kadang tidak adil. I mean, we didn’t choose who will be our mom or dad, or we didn’t bring any bad-luck over our family. Kita (anak) dilahirkan secara suci tanpa dosa, dan kalaupun anak tersebut hasil dari sebuah kesalahan, maka bukan anak yang bersalah tapi tindakan orang tuanya.

Beragam jenis tindakan Child-Abuse, mulai dari penelantaran anak, pembunuhan baik yang sudah dilahirkan maupun yang masih di dalam kandungan, berikut juga para anak yang menjadi korban perang. Konsep dari child-abuse sendiri tidak hanya serta merta dalam fisik, tetapi juga mental mereka. David disini mungkin masih bisa bertahan dan berpikir waras demi masa depannya. Namun berapa banyak David lainnya yang tidak mampu bertahan hidup, atau yang lebih miris, mereka akan berkembang dan menghasilkan David-David lainnya demi sebuah dendam yang tidak terbayarkan? It will be so horrific.

There is no greater evil than those who willingly hurt an innocent child. (Unknown)